Ini Risiko Lelaki Subita

Bagikan:
Ilustrasi

DITILIK dari usia, Alisarap (50) nama samaran, jauh lebih tua dari suami Fitri (40) bukan nama sebenarnya. Tapi anehnya, Fitri bisa tertarik pada lelaki sopir travel tetangga sendiri itu. Pas suami tidur sekira pukul 23.00, keduanya kencan di kebun jagung. Tapi sial, saat mereka sedang pemanasan, tahu-tahu dipentung slumbat oleh Murdani (juga nama samaran). Ya matilah Alisarap.

Lagi-lagi terbukti, rumput tetangga itu selalu lebih hijau. Atau juga, ikan hias di akuarium tetangga itu sangat menawan. Tapi sehijau apapun, seindah apapun itu ikan hias, cukuplah ditonton tak boleh diambil dan digorengnya. Sebab konsekuensinya berat. Jika ketahuan, minimal kehilangan muka, atau bahkan kehilangan nyawa. Sudah banyak kisah-kisah seperti ini.

Alisarap warga Kalianda, Lampung Selatan, rupanya tak pernah baca atau nonton di TV tentang kisah-kisah seperti itu. Maka ketika dia terjebak jadi lelaki subita alias suka bini tetangga, tetap tenang-tenang saja. Prinsipnya, sepanjang pihak yang dikencani bersedia, habis perkara.

Di kampungbya, penampilan Fitri memang beda dengan perempuan kampung dusun pada umumnya. Dia nampak masih cantik kendati usia sudah kepala empat. Kata orang Jawa Lampung, Fitri itu termasuk sekel nan cemekel (enak dipegang). Maka banyak lelaki tetangga yang suka mikir yang mboten-mboten setiap melihat istrinya Murdani tersebut.

Tapi ya sekadar berotak ngeres, tak ada niat untuk menindaklanjuti atau mewujudkannya dalam karya nyata. Ini beda dengan Alisarap, tetangga Fitri tersebut. Dia tak hanya berotak ngeres, tapi juga putar otak bagaimana bisa menaklukkan Fitri dalam satu putaran saja. Katanya, tanpa usaha tak mungkin sebuah cita-cita terlaksana.

Biar pekerjaan Alisarap hanya sopir travel, tapi dia punya kelebihan pinter ngomong atau menata kata. Dia pintar meyakinkan orang, sehingga di masa mudanya dulu banyak nian pacar-pacarnya. Tapi yang diambil jadi istri memang satu saja, dan kebetulan berwajah biasa-biasa saja. “Sopir punya bini cantik, bisa makan hati.” Kata Alisarap sekali waktu.

Dan, Alisarap layak diberi nama seperti itu, karena sikapnya yang tidak konsekuen. Katanya tak mau berbini cantik, tapi kini setiap melihat bini Murdani yang sekel nan cemekel, pendulumnya langsung kontak. Apa nggak sarap itu namanya si Ali? Paling cocok dia namanya memang nunggak semi (meniru) bupati Garut yang dicopot: Aceng Ali.

Diam-diam dia mulai mendekati Fitri. Ternyata betul, berkat ahli menata kata, hanya satu kali kunjungan bini Murdani ini bisa terpikat pada Alisarap. Sejak itu asal ada peluang sopir travel itu mengajak kencan. Bisa di rumah Fitri sendiri, atau bahkan di kebon jagung tak jauh dari rumah. Tengah malam mereka krusak-krusek tanpa takut disamperi ular. Atau ularnya yang takut mendekat, karena lihat orang bugil di kebun.

Seminggu lalu Alisarap ngebet banget, tapi Murdani ada di rumah. Maka dia telepon Fitri bagaimana kencan itu bisa terlaksana malam itu. Nah, begitu tampak suaminya sudah ngorok, Fitri pun mengatur siasat. Ternyata Murdani mendengar pembicaraan itu. Maka begitu istri keluar rumah, diam-diam dia mengikuti sambil bawa slumbat (alat pengupas kelapa).

Ternyata keduanya janjian di kebun jagung. Fitri langsung menggelar tikar plastik dan pemanasan pun berlangsung. Tentu saja Murdani naik pitam. Alisarap yang tengah mencumbu bininya itu serta merta dikemplang slumbat tepat di bagian kepala. Bet! Begitu keras hantaman itu, Alisarap pun tewas sementara Murdani kabur.

Esok paginya warga geger menemukan mayat Alisarap di kebon orang. Berdasarkan penyelidikan polisi, akhirnya Murdani ditemukan beberapa hari lalu di Banyuasin. Dia digelandang ke Polres Lampung Selatan. Dalam pemeriksaan dia mengaku panas, ketika melihat istrinya bergulat di kebun bersama Alisarap. “Langsung saja saya pentung kepalanya pakai slumbat, pang!” Ah, kok kaya bunyi pukulan di buku Bahasaku bacaan SD. (pk/jpnn)

Bagikan:
Loading...