Ramuan Tradisional Ampuh Atasi Penyakit Step

Bagikan:
AL Sinaga saat menunjukan ramuan tradisionil untuk mengobati penyakit step

NewTapanuli.com – Ramuan obat tradisionil buatan A L Sinaga (63), cukup ampuh dikenal masyarakat khususnya mengobati penyakit step. Bahkan ia sudah mendapat sertifikat pada masa pemerintahan Djabanten Damanik.

Pada Sabtu (25/3) kemarin, wartawan koran ini berkesempatan berbincang-bincang dengan AL Sinaga di kediamannya di di Huta Baya, Kelurahan Baringin Raya, Kecamatan Raya. Ia mengawali pembicaraan bahwa untuk mendapatkan ramuan mengobati penyakit step bukanlah perkara mudah. Ia harus mengumpulkam beragam jenis daun tumbuh-tumbuhan dari hutan belantara untuk bahan baku ramuannya. Daun-daun itu ia sebut Sihala Gundi, Suratan Niilik, Suratan Nibodat, Sitolu Bulung, Taruhup Buluh Minak, Taruhup Buluh Soma, Hosaya Sitolu-tolu.

Kalau sudah terkumpul, maka daun-daun tersebut lebih dahulu dicincang kemudian di tumbuk halus. Setelah itu dijemur dan sudah bisa dipakai. Untuk mendapatkan khasiat yang lebih baik, ramuan itu dikonsumsi sewaktu masih basah0. Namun dampaknya, perut bisa mual. “Walaupun sudah dikeringkan, tidak mengurangi khasiatnya, itu hanya untuk menghilangkan bau lapuk,” katanya.

Ia juga mengatakan, cara mengonsumsi ramuan itu cukup sederhana saja. Cukup setengah sendok teh aja kemudian dicampur dengan nasi untuk dimakan. Sementara itu, kalau anaknya masih bayi dan menyusui, maka sang ibulah yang mengonsumsi ramuan tersebut.
“Kalau anak kondisi panas, ada baiknya tidak dikonsumsi dulu ramuannya,” katanya.

Ramuan obat ini sudah menjadi salah satu mata pencaharian A L Sinaga, sehingga setiap bulannya, ia dapat memproduksi 20 bungkus yang dijual dengan harga Rp250 ribu perbungkusnya. “Selain warga sekitar, dari luar daerah banyak yang datang untuk berobat,” akunya.

Menurut pengakuan A L Sinaga, jika ramuan tersebut telah dikonsumsi, maka tidak akan lagi menderita step hingga masa tua. “Cukup hanya mengonsumsi dua bungkus saja, anak itu tidak akan lagi mengidap step hingga masa tuanya. Tak jarang, orang harus menunggu hingga beberapa hari karena tidak ada stok ramuan,” ujarnya.

Karena banyaknya permintaan, A L Sinaga mengaku kesulitan untuk memenuhinya, sehingga harus bersabar dulu. Sebab, untuk mendapatkan bahan baku tidaklah mudah, karena hanya ditemukan di hutan. “Kalaupun kita tanam di perladangan sangat sulit tumbuh. Maka tak jarang kita harus bayar orang untuk mencari bahan baku ramuan tersebut. Namun untuk di hutan sekitaran kampung ini, tanaman tersebut masih tetap bisa kita temukan,” ujar A L Sinaga.

Berkat keseriusannya menekuni pembuatan ramuan obat tradisional, ia sudah pernah mendapatkan sertifikat di era pemerintahan Djabanten Damanik. Ketika itu, ada perlombaan untuk ramuan tradisional, dan hasilnya L A Sinaga mendapat pengakuan dari Djabanten Damanik sehingga diberi sertifikat. (ss/pra)

Bagikan:
Loading...