Persingkat Waktu Adat Pernikahan Tanpa Mengurangi Nilai Adat Batak

Bagikan:
Wakil Bupati Tobasa, Ir Hulman Sitorus didampingi Kapolres Tobasa AKBP Agus dan Ketua LADN Tobasa Verpa Panjaitan membuka seminar adat di Aula SMKN 1 Balige, Jumat (21/12). (Freddy/New Tapanuli)

NewTapanuli.com, TOBASA – Lembaga Adat Dalihan Natolu (LADN) Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) menggelar seminar adat Batak dalam pesta penikahan yang digelar di Aula SMKN 1 Balige, Jumat (21/12). Seminar tersebut mengangkat konsep mempersingkat (padasiphon) adat pernikahan.

Sebagaimana disampaikan Jonang MP Sitorus SH selaku narasumber dalam seminar “Padasiphon Paradaton Parbogason Anak Dohot Boru Batak”, bahwa sering muncul keluhan undangan dalam pelaksanaan adat pernikahan terkait masalah waktu. Di mana selama ini dibeberapa acara adat pernikahan baru digelar acara makan pada jam 15.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Kemudian, acara adat berlangsung hingga malam hari, bahkan ada yang sampai pukul 21.00 WIB.

Menurutnya, kondisi seperti itu perlu dirubah dengan syarat, tanpa mengurangi nilai-nilai luhur budaya Batak. Caranya, dengan memaksimalkan waktu, mempersingkat beberapa kegiatan yang dianggap bertele-tele.

Seminar yang dihadiri sejumlah elemen masyarakat dari wilayah Tobasa itu dijelaskan, sebagai orang Batak, sudah ratusan tahun melaksanakan adat. Namun diakui bahwa belakangan ini secara tidak langsung sudah mulai terbawa-bawa arus kemajuan. Baik keinginan pribadi atau kelompok, sehingga muncul berbagai kendala saat melaksanaan adat.

Menurutnya Inti sebuah adat harus teratur. Sehingga tampaklah adat Dalihan Natolu yang selayaknya di laksanakan dalam acara adat. Seperti terlebih dahulu membayar mahar (sinamot), kemudian digelar tortor.

“Dalam pelaksanaan acara adat pernikahan, banyak yang sudah kita lakukan hal yang kurang tepat dalam adat. Seperti menyematkan/memberikan ulos (mangulosi) putri (boru) dan menantu laki-laki (hela) saat hari sudah gelap. Padahal, makna mangulosi adalah untuk meminta doa dalam memberangkatkan putri kita berumah tangga. Seharusnya mangulosi di saat hari masih terang. Pantang menyampaikan nasihat (hata sigabe-gabe) kepada putri kita saat hari sudah gelap. Sebab, doa saat hari terang (tangiang hatiuron) yang kita minta kepada Tuhan saat mangulosi putri kita,” katanya.

“Melalui forum ini, kami mengajak kita bersama untuk berubah, menjadikan acara adat yang efisien, tepat waktu,” katanya.

Ditegaskan, seminar itu bukan membahas jambar, adat marhusip, dan adat Pudun Saut. Hanya membahas penggunaan waktu. (ft/osi/nt)

Bagikan:
Loading...