Taput Tuan Rumah Festival Tenun Nusantara

Alfredo Sihombing/New Tapanuli
Ketua Dekranasda Taput Satika Simamora dan Koordinator Indonesiana Yanas Sidabutar rapat persiapan festival ulos nusantara.
LINE it!

NewTapanuli.com, TAPUT – Berkat perjuangan dan kerja keras Ketua Dekranasda Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) Satika Simamora, Kementrian Pendidikan Kebudayaan sepakat mengangkat tema tenun. Dan untuk itu, Kabupaten Tapanuli Utara ditunjuk sebagai tuan rumah festival tenun nusantara yang akan dilaksanakan pada 13-17 Oktober.

Untuk mematangkan konsep dan teknis penyelenggaraan tim Indonesiana yang ditunjuk sebagai penghubung dan mempersiapkan kegiatan berkonsultasi dengan Ketua Dekranasda Satika Simamora di Rumah Dinas Tarutung.

Tim Indonesiana yang turun Yanas Sidabutar (koordinator), Simon Siregar (humas), Roynaldo Purba (kerjasama dan sponsor) dan Charis Purba (notulen).

Yanas mengatakan berbagai kegiatan mewarnai festival tenun nusantara di Taput mengambil dua titik kegiatan yakni Tarutung dan Muara.

Konsep yang dianut Kemendikbud kalau dulunya budaya Eurolopia sekarang mereka yang ditarik masuk ke Indonesia. “Platform kebudayaan ini akan mengangkat pokok pikiran kekayaan budaya daerah ,” katanya.

Jadi akan ada kolaborasi lewat event. “Kami telah mendengar perjuangan ibu yang getol mengangkat partonun hingga pameran ke Korea Selatan,” katanya.

Yanas mengatakan konsep maupun rundown yang ditawarkan panitia dapat bersinergi dan padu. “Jadi kita mengangkat produk tenun secara nasional dan khusus Taput dan latar belakangnya. Sisi magis didalamnya, bukan itu saja berbagai hal yang mewarnai perjalanan ulos juga akan diangkat,” katanya.

Yanas berharap dengan dukungan Bupati Nikson Nababan dan Ketua Dekranasda Satika Simamora event nasional tersebut berjalan dengan lancar.

Ketua Dekranasda Satika Simamora sangat sepakat bahwa di festival ulos nusantara harus menaikkan para pengerajin. “Saya sudah rencanakan sejak tahun 2017, bahkan filmnya pun sudah kita rilis mengangkat ulos,” kata Ketua TP PKK, Selasa (6/8).

Satika mengatakan kerja keras itu akhirnya berbuah manis. “Dulu Saya berjuang memperkenalkan ulos keluar Taput bahkan ke Korea Selatan dengan berdarah-darah bahkan sering mendapat penolakan dari penenun karena meminta mereka beralih motif,” katanya.

Sekarang partonun Taput terutama Papande Muara sudah rasakan tingginya harga ulos mereka. “Saya tidak mau lagi pameran keluar tapi siapa yang ingin produk kami promo harus jelas sehingga Partonun kita beruntung,” katanya.

Di festival nantinya, Satika menawarkan konsep menjual budaya Taput. “Kita kaya budaya, ada gorga, tonun, gondang dan keindahan Danau Toba. Kenapa mesti angkat budaya daerah lain, budaya kita jauh lebih punya nilai tinggi. Tinggal mengemasnya lebih baik,” ujarnya.

Satika yakin dengan sinerginitas semua pihak akan terbangun konsep yang sama meningkatkan kesejahteraan pengerajin. (as/osi/nt)

Loading...