Diduga Akibat Bibit Padi Bantuan Pemerintah Petani Tapian Nauli Gagal Panen

Bagikan:
Petani Tapian Nauli Gagal Panen

NewTapanuli.com, TAPTENG – Sejumlah Petani di Kecamatan Tapian Nauli, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) meradang. Lantaran, kali ini panen mereka gagal total. Mereka menduga, buruknya kualitas bibit yang mereka terima dari pemerintah sebagai pemicu utama.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh Ketua Kelompok Tani Sidikkil, Mayor Hutagalung. Diterangkannya, adapun nama bibit yang dibagikan sekira bulan November 2018 yang lalu yakni Inpari 32. Sementara, petani yang tidak menggunakan bibit bantuan tersebut, seluruhnya berhasil. Padahal, padi yang mereka tanam berada di atas lahan yang berdampingan.

“Saya benar-benar heran, kenapa ini (gagal panen,red) bisa terjadi. Buah padi tidak berisi normal sebagaimana mestinya, busuk, mengecil, patah-patah dan bahkan ada yang hancur. Masa panen pun gak sesuai dengan yang dijanjikan. Katanya waktu itu 120 hari (4 bulan). Sedangkan, belum 120 hari sudah siap panen,” kata Mayor ditemui di kediamannya di Dusun 1, Desa Poriaha Nagodang, Tapian Nauli III, Selasa (12/2) lalu.

Katanya, akibat gagal panen tersebut, para petani mengalami kerugian yang tidak sedikit. Selain karena kualitas bibit yang buruk, mereka mengaku tidak tahu alasan lain kegagalan tersebut. Sebab, mereka telah mengelola tanaman mereka dengan baik. Tak hanya irigasi (pengairan,red), pupuk dan hama tanaman juga dikendalikan.

“Jadi kami tidak tahu apa penyebab gagal panen ini. Kalau disebut karena irigasi, kurang pupuk atau hama, kami rasa tidak, semua cukup. Tapi kalau dikatakan karena bibit, itu tentu kami tidak tahu. Tapi ini sudah kami laporkan kepada Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di daerah ini,” ungkapnya.

Hal tersebut juga diamini oleh sejumlah petani lainnya, yang juga bernasib sama dengan Mayor. Para petani korban gagal panen ini pun berharap kepada pemerintah supaya memberikan perhatian kepada mereka. “Kami benar-benar hancur. Belum lagi waktu dan tenaga yang terkuras selama mengelola lahan,” kata A. Halawa (53), salah seorang petani korban gagal panen lainnya.

Terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Tapteng, Iskandar, yang ditemui diruang kerjanya terkejut mendengar kejadian tersebut. Dia pun langsung memerintahkan stafnya untuk segera turun menghimpun data perihal penyebab gagal panen. “Tapi tentu hasilnya tidak dapat kita putuskan seperti apa nantinya. Karena itu adalah kegiatan pemerintah pusat,” katanya.

Ditimpali Kepala Seksi (Kasi) Pembibitan, Susanto Yasa Silitonga didampingi Kepala Urusan (Kaur) Data Dinas Pertanian Tapteng, Leiden Tarigan, membenarkan hal itu. “Namun demikian, kita tentu prihatin dan heran. Tapi kok di kecamatan lain, berhasil. Di kecamatan Tapian Nauli tidak. Padahal seluruh bibit sama, bagus, dilabeli sertifikat Balai Pengawasan dan Sertifikat Benih (BPSB) dan tidak kadaluarsa,” ujarnya.

Menurut Silitonga, ada 1.600 hektar sawah di Tapteng yang mendapatkan bibit bantuan tersebut. Dan 500 hektar di antaranya ada di Kecamatan Tapian Nauli. “Jadi, untuk mengetahui apa penyebab gagal panen tersebut, harus diperiksa secara detail terlebih dahulu. Namun Dinas Pertanian Tapteng tentunya tidak bisa berbuat banyak, karena sepenuhnya berada di tangan pemerintah pusat selaku pemilik kegiatan,” terangnya.

Karena menurutnya, ketika penyaluran bibit, dilakukan langsung oleh pemerintah pusat melalui PT Pertani kepada sejumlah kelompok tani. Dinas Pertanian Tapteng saat itu, hanya sebatas pendamping. “Sehingga kalau pun ada masalah sebelum kasus gagal panen ini terjadi, semisal serangan hama, kita tidak bisa langsung bertindak untuk memberikan bantuan. Kecuali dikoordinasikan oleh petugas pertanian disana kepada kita. Tapi itu pun, kita tentu melihat terlebih dahulu ketersediaan dan kebutuhan kita. Kalau memungkinkan, kita bantu,” pungkasnya. (ts/nt)

Bagikan:
Loading...