Varietas Padi Invari 42 Masih Menjadi Primadona Petani

Dzulfadli Tambunan/New Tapanuli
Zulkarnain Pasaribu saat melakukan diseminasi di lahan persawahan miliknya.
LINE it!

NewTapanuli.com, TAPTENG – Musim tanam padi di Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) mulai tiba. Namun dengan semakin sulit ditebaknya kondisi iklim, petani harus berhati-hati memilih varietas padi yang adaptif untuk menghasilkan panen melimpah.

Beberapa petani menyebutkan varietas Inpari 42 masih menjadi andalan untuk menghasilkan panen yang diharapkan.

Zulkarnain Pasaribu (40), salah seorang petani yang ditemui saat melakukan diseminasi (penyemaian) di areal persawahannya menyebutkan, mayotitas petani di Kecamatan Sibabangun masih mengandalkan varietas Inpari 42 untuk musim tanam tahun ini. Disebutkannya, mensiasati terbatasnya ketersediaan air, perubahan iklim akibat pemanasan global, serangan hama dan penyakit tanaman, ia selalu menanam varietas Invari 42 yang memiliki keunggulan dari varietas lainnya.

“Invari 42. Tahun lalu kita juga memakainya, alhamdulillah hasil panen kita bertambah,” katanya, Selasa (7/8).

Lebih jauh diterangkan, tingkat kesuburan tanah yang setiap tahun semakin menurun dan ketersediaan air yang semakin terbatas, memaksa para petani memasang strategi yang dapat ditempuh untuk menyelamatkan produksi panen, termasuk penyesuaian pola tanam, penerapan teknologi adaptif, terutama varietas adaptif dan tahan perubahan iklim, teknologi antisipasi dan pengendalian OPT serta teknologi panen dan pasca panen.

“Varietas unggul menjadi pilihan utama. Selain berdaya hasil tinggi, varietas tersebut berumur pendek, tahan terhadap OPT tertentu, toleran terhadap banjir maupun kekeringan dan responsif terhadap pemupukan,” urainya.

Menurut Zul, Invari 42 merupakan varietas unggul baru (VUB), murah, serta efektif meningkatkan hasil karena tahan hama tertentu. Peningkatan produksi yang dihasilkan melalui penggunaan VUB dapat meningkatkan produksi lebih tinggi sekitar 15-35 persen.

Terkait minimnya pendampingan yang dilakukan Petugas Pertanian Lapangan (PPL) terhadap para petani, ayah 2 anak ini tidak menampiknya. Ia menyebutkan, para petani melakukan pengolahan lahan hingga panen mayoritas memakai metode otodidak. Para petani jarang mendapatkan penyuluhan dan praktek langsung tentang bagaimana merawat tanaman padi.

Padahal sambung Zul, pendampingan kepada para kelompok tani sangatlah penting agar para kelompok tani mengetahui metode pengolahan lahan yang baik, pemilihan jenis tanaman yang cocok dengan iklim setempat, cara pemberantasan hama, pemupukan sampai dengan panen yang benar.

“Kita berharap agar PPL lebih sering turun kelapangan. Petani tidak membutuhkan pengarahan dan ceramah, akan tetapi praktek langsung di lapangan, sehingga bila terjadi permasalahan dapat diatasi secara bersama-sama,” pungkasnya. (ztm/osi/nt)

Loading...