Pemulung Minta Becak Motor kepada Walikota

Bagikan:
Asril bersama anggota kelompoknya saat merapikan barang bekas yang mereka kumpulkan. (Toga Sianturi/New Tapanuli)

NewTapanuli.com, SIBOLGA – Memulung kerap mengutip barang-barang bekas dan mengumpulkannya pada sebuah wadah untuk kemudian dijual ke penampung. Mungkin banyak orang yang sepele dengan profesi yang satu ini. Setiap hari bergelut dengan debu jalanan dan sampah, untuk mencari dan mendapatkan barang-barang bekas.

Namun jangan salah, ternyata profesi ini juga sangat menjanjikan. Tinggal, bagaimana caranya mengatur jumlah barang dan waktu penjualannya. Semakin banyak jumlah barang bekas yang mau dijual, maka harga yang ditawarkan penampung juga bisa sampai 8 kali lipat dari harga normal.

Selain modal yang cukup, tentunya para pemulung harus memiliki sarana angkutan barang-barang bekas mereka. Selain mempermudah cara kerja, juga mengurangi pengeluaran yang cukup besar setiap hari. Bayangkan saja, berapa biaya yang harus mereka keluarkan untuk menyewa transportasi mengangkut barang bekas yang jumlahnya bisa mencapai puluhan karung.

Inilah yang dialami komunitas pemulung di Kota Sibolga. Mereka telah berdiri sejak tahun 2016 yang lalu. Mereka menamainya dengan Kelompok Pemulung Sejahtera Nusantara.

Dari hasil wawancara wartawan dengan kelompoknya ini, dalam melakoni profesinya, banyak kekurangan yang mereka rasakan akibat keterbatasan modal. Diterangkannya, mereka terus mempelajari bagaimana cara memperoleh penghasilan yang besar dari hasil memulung. Untuk dapat mengumpulkan barang bekas dalam jumlah yang banyak, mereka tidak hanya memulung di seputar Kota Sibolga maupun Tapteng. Mereka bahkan memulung sampai ke Sipirok, Tapanuli Selatan.

“Ke Batang Toru sampai ke Sipirok kami memulung. Anggota kita memulung di seputar Sibolga dan Tapteng, saya dan anggota lainnya sampai ke Sipirok sana. Karena, semakin banyak barang yang kita juga, keuntungannya bisa sampai 8 kali lipat. Malah, digratiskan lagi angkutannya, dijemput lagi. Aturan Rp1.000 per kilogram, bisa jadi Rp8.000 per kilogram,” kata Asril Zega, yang menjabat sebagai Ketua Kelompok, diamini Kasmini Lubis, anggota kelompok lainnya, Kamis (7/2).

Awalnya, lanjut kata warga jalan Eben Ezer, Kelurahan Parombunan, Kecamatan Sibolga Selatan ini menjelaskan, mereka menyewa becak barang miliki orang lain sebagai transportasi angkutan barang sebesar Rp50.000 per hari. Namun, dari perhitungan mereka, setelah dipotong biaya sewa angkutan, untung atau laba yang diperoleh tidak mampu lagi menopang ekonomi keluarga. Oleh karena itu, beberapa bulan terakhir mereka memutuskan untuk berhenti, tidak lagi pergi memulung ke luar kota,

“Kalau dihitung, untung yang didapat sehari bersihnya Rp100 ribu. Potong sewa becak, tinggal Rp50 ribu lah yang kita bawa pulang. Sementara, waktu sewapun terbatas, hanya dari mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB saja. Oli dan segala kerusakan, kita yang tanggung,” terangnya.

Ditengah keterbatasan modal para pemulung ini, mereka berharap uluran tangan pemerintah daerah. Dengan memberikan mereka bantuan berupa becak motor berbak belakang. Agar mereka dapat menyambung hidup anak dan istri mereka dari hasil memulung.

“Kami berharap perhatian bapak walikota kepada kami para pemulung. Kalau bisa, bapak walikota bersedia membantu dengan memberikan kami becak untuk usaha kami ini. Karena, anak dan istri kami, kami beri makan dari hasil memulung ini,” ungkapnya.

Diakuinya, Pemko Sibolga sebelumnya pernah memberikan bantuan kepada mereka berupa jaket, sekop dan sepatu. Namun menurutnya, bantuan tersebut bukanlah barang yang mereka perlukan. “Bukan kami menolak bantuan itu. Tapi, tidak sesuai dengan apa yang kami butuhkan. Sekarang ini, kami hanya butuh armada untuk mengangkut barang-barang bekas kami. Dalam sehari, kami mampu menghasilkan sampai 25 karung. Coba bayangkan, bagaimana kami harus mengangkut itu ke Sibolga. Kalau dengan cara menyewa becak atau mobil, tentunya sudah memakan banyak biaya. Tapi, kalau ada becak saja, sudah bisa mengangkut,” pungkasnya. (ts/nt)

Bagikan:
Loading...