Mirza Adityaswara: Rupiah Melemah, Pertumbuhan Ekonomi Masih Normal

Ridwan Butar-butar/New Tapanuli
Mirza Adityaswara ketika diwawancarai sejumlah wartawan di Sibolga.
LINE it!

NewTapanuli.com, SIBOLGA – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

Menurut Mirza, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I sebesar 5,1% dan di kuartal kedua sebesar 5,2% merupakan pertumbuhan ekonomi yang bagus sekali. “Kemudian provinsi Sumut ini pertumbuhan ekonominya antara 4,5% – 5,5%. Itu pertumbuhan ekonomi yang juga bagus,” ujar Mirza kepada wartawan di Graha Aulia BI Sibolga, Jumat (7/9) siang kemarin.

Kedatangan Mirza Adityaswara di Sibolga menghadiri diskusi publik Outlook Perekonomian Indonesia, Perkembangan Ekonomi Regional, dan Kebijakan Bank Indonesia.

“Saya hadir di Sibolga, ingin melihat bagaimana perekonomian di Sibolga, saya juga ingin mendapatkan input dari teman-teman baik di pemerintahan daerah maupun dari perbankan terkait perkembangan ekonomi Sumut,” ujarnya.

Dia mengatakan meski pertumbuhan ekonomi Indonesia bukan 6% seperti pencapaian pada 2012, atau pada waktu harga komoditi masih tinggi, dan pada saat itu suku bunga Amerika belum naik.

“Namun sekarang dengan pertumbuhan 5,1% di kuartal satu dan 5,2% di kuartal dua, menurutnya kondisi ini cukup normal akibat kenaikan suku bunga Amerika yang terus berlanjut sejak tahun 2013 dari 0,25% sekarang sudah 2%, dan masih berlanjut 3% di tahun 2019 mendatang,” pungkasnya seraya menambahkan perang dagang antara Amerika dengan Cina, Mexico, Rusia telah membuat mata uang dolar Amerika menguat.

Lantas, kenapa berpengaruh ke Indonesia dan negara market yang lain?, menurut Mirza hal itu dikarenakan Dolar adalah mata uang internasional dan dipergunakan di kegiatan investasi internasional maupun kegiatan ekspor impor. Sehingga yang memproduksi valuta asing itu menaikkan suku bunga.

“Kemudian Presiden Amerika juga sedang melakukan perang dagang, pastinya itu berpengaruh kepada stabilitas kurs dolar. Tetapi situasi ini tidaklah membahayakan, meski kurs rupiah telah mencapai Rp. 14.800 per dolar AS. Karena pertumbuhan ekonomi kita hanya turun dari 6,0% ke 5%, dan tahun ini pertumbuhan ekonomi kita antara 4,8% – 5,2%. Kita menilai pertumbuhan ekonomi ini masih sangat baik,” bebernya.

Loading...