Ratusan Ton Bangkai Ikan ‘Diamankan’ dengan Buldozer

Bagikan:
Evakuasi bangkai ikan di Desa Pintu Sona, Pangururan, Kabupaten Samosir.

NewTapanuli.com, Samosir – Oksigen minim secara tiba-tiba diduga menjadi penyebab matinya sekitar 180 ton ikan keramba jaring apung (KJA) di Desa Pintu Sona, Pangururan, Kabupaten Samosir. Bangkai ikan-ikan milik masyarakat tersebut dievakuasi, Kamis (23/8).

Kepala Dinas  Lingkungan Hidup Pemkab Samosir Sudion Tamba mengatakan, kejadian ikan mati massal ini cukup mengejutkan warga. Pihaknyapun langsung turun ke lapangan dan  melakukan pemeriksaan kadar oksigen di lokasi keramba. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kadar oksigen dalam air  (Dissolved Oxygen atau DO) berkisar 2,28 Mg/L. Kondisi tersebut sangat jauh di bawah standard mutu air yang ditetapkan pemerintah berdasarkan PP 82 tahun 2001 minimal 6,0 Mg/L.

“Untuk sementara diperkirakan penyebab matinya ikan ini karena kekurangan oksigen, DO 2,82 Mg/L itu sangat rendah,” ujarnya Sudion.

Dari segi lingkungan hidup, kata Sudion, bangkai ikan yang sudah mulai membusuk mengakibatkan pencemaran udara dan air. Bau amis sudah terasa dari jarak 500 meter dari lokasi.

Pihaknya dibantu pemilik dan komunitas warga telah berupaya melakukan evakuasi sejauh 30 meter dari bibir pantai. Menggunakan satu unit alat berat, bangkai ikan dievakuasi ke dalam galian tanah seluas seluas 10 x 10 meter dengan kedalaman 2 meter.

“Kita tidak bisa menggali terlalu dalam sebab di bawah  kedalaman dua meter sudah keluar air. Jadi kita buat seadanya guna mempercepat evakuasi,” terang Sudion, sembari menuturkan kalau bangkai ikan nantinya akan diolah menjadi pupuk kompos.

Turut membantu evakuasi Perkumpulan Warga Onan Baru (Perona). Sebanyak 25 orang anggota Perona turun ke lokasi sebagai bentuk kepedulian bersama.

“Intinya, kami turut prihatin atas kejadian yang menimpa petani keramba ini. Kita akan bantu hingga proses evakuasi selesai,” ujar Polten Simbolon, koordinator Perona.

Salah seorang Petani keramba, Nadeak mengatakan akibat kejadian ini mereka merugi hingga Rp5 Miliar. Tanda-tanda kejadian tersebut bermula pada 21 Agustus sore hari.

“Ikannya gak mau makan, dan berada di dasar semua. Jadi kita sempat berusaha memberikan oksigen dengan cara memompa,” sebutnya.

Lalu, pada hari kedua ikan-ikan mulai lemas dan mengapung. Kemudian, berurutan ikan-ikan mati dan kejadian serupa berlangsung secara bersamaan.

“Saat ini kami fokuskan untuk pembersihan bangkai ikan dulu,” pungkas Nadeak.

Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Kabupaten Samosir Sumatera Utara, Jhunellis Sinaga, menduga terjadi kematian ikan karena perubahan suhu.

“Ini akibat Up Welling, dugaan sementara terjadi perubahan suhu. Suhu dari dasar danau naik ke permukaan,” tuturnya.

Menurut Jhunellis, endapan limbah di dasar danau naik ke permukaan dan ikan pun tidak bisa memperoleh oksigen secara maksimal. Limbah tersebut berasal dari berbagai macam kandungan.

Data sementara 140 petak KJA yang sudah berisi bangkai dengan rincian 180 ton ikan yang sudah mati. Ikan-ikan terdiri dari mujahir, nila dan ikan mas. Keseluruhan ikan itu sudah siap panen. (ana/esa/nt)

Bagikan:
Loading...