Ini 4 Lokasi Belajar Sejarah Batak di Pulau Samosir

Bagikan:
Tarian Sigale-gale yang dipertunjukkan di Museum Huta Bolon, Simanindo, Kabupaten Samosir.

NewTapanuli.com – Pulau Samosir menjadi wilayah yang banyak dipilih untuk menikmati keindahan Danau Toba. Tak hanya danau terbesar di Asia Tenggara yang bisa dicecap pesonanya. Pulau seluas 1.419 kilometer persegi ini juga memiliki peninggalan sejarah Suku Batak Toba.

Sedikitnya ada empat lokasi di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara ini, di mana wisatawan bisa belajar banyak tentang suku yang tinggal di Pulau Samosir tersebut.

Diantaranya, Makam Raja Sidabutar, merupakan makam penguasa Samosir di masa silam yang terbuat dari batu utuh berukuran besar. Batu tersebut diletakkan begitu saja di atas tanah. Memasuki makam raja yang terkenal kesaktiannya ini, wisatawan harus menggenakan ulos. Raja meninggal pada 1544. Objek wisata ini berada tak jauh dari dermaga di Tomok. Wisatawan tinggal berjalan kaki untuk mencapai objek wisata ini.

Kemudian, Huta Siallagan, berupa sebuah kompleks yang terdiri atas beberapa rumah Batak Toba, makam raja, serta seperangkat meja dan batu yang menjadi tempat mengadili para pelaku kriminal di masa silam. Yang terakhir inilah yang disebut batu persidangan dan menjadi ciri khas dari objek wisata di sini.

Di kursi batu itulah raja bersama penasihat membahas hukuman untuk seseorang yang berbuat kejahatan. Hukumannya bisa berupa hukuman pancung.

Siallagan sendiri tak lain dari nama sebuah marga. Huta atau kampung Siallagan ini berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo. Kampung juga dikelilingi oleh batu besar, yang juga berfungsi sebagai benteng.

Selanjutnya, Museum Huta Bolon Simanindo. Lokasinya 20 kilometer dari dermaga Tomok, tepatnya di Simanindo, Samosir. Di sini wisatawan bisa mencermati koleksi museum yang berupa peninggalan Suku Batak Toba, di antaranya berupa kain jenis tradisional setempat, kain ulos, peralatan memasak dan perlengkapan masyarakat di masa silam. Ada juga deretan rumah khas Batak Toba di tempat wisata ini.

Di museum ini, wisatawan bisa juga mengenal tarian lawasnya. Salah satunya tradisi tarian Sigale-gale. Berupa pertunjukan boneka dari kayu yang disertai tarian tor tor. Kegiatan ini diadakan setiap hari, pada pukul 10.30 WIB dan pukul 11.45 WIB. Di akhir cerita, penonton pun diajak untuk menari. (tmp/int/nt)

Bagikan:
Loading...