Bangkai Walrus Hebohkan Nias Barat

Bagikan:
Bangkai Walrus yang terdampar di pesisir Pantai Nias Barat.

NewTapanuli.com, MEDAN – Bangkai seekor binatang besar dan bertaring hebohkan masyarakat pesisir pantai Nias Barat, Sumatera Utara. Belakangan hewan mamalia laut ini dikenal bernama Walrus (Odobenus Rosmarus) yang tersebar di Samudra Arktik,.

Berdasarkan informasi, bangkai binatang besar dan bertaring ini terdampar di tepi pantai, Kamis (26/6) lalu. Keberadaan hewan besar bertaring inipun menjadi pusat perhatian warga karena memiliki panjang 10 meter dan berdiamter 1,5 meter.

Mendapat kabar temuan Walrus, tim ahli Zoologi Universitas Sumatera Utara (USU) langsung turun melakukan penelitian di lokasi temuan bangkai hewan bertaring, di Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara.

“Walrus ini adalah hewan khas dari Kutub Selatan Antartika, dan diperkirakan terbawa arus laut dari Samudera Hindia menuju Kepulauan Nias,”ujar salah seorang ahli Zoologi, Erni Jumilawaty kepada wartawan di Medan, Selasa (3/7) siang.

Dikatakan Erni, penelitian dari awal video amatir sudah bisa diketahui jenis hewan besar itu. Namun, sebelumnya diperkirakan bangkai ikan paus. Kemudian dilakukan penelitian secara detail sudah jelas Walrus.

“Tadinya, saya mencurigai ada dua ya, Paus sama dari kelompoknya Walrus, setelah saya teliti lagi ternyata kalau dari kelompoknya Paus tidak memungkinkan karena dari kepalanya, sebab kepala Paus cenderung smooth, sedangkan Walrus dia nampak lebih menunjukkan ciri mamalianya kalau dibandingkan dengan Paus,”terang Erni.

Dijelaskan Erni, dari taring yang berada di bagian kepala, bangkai hewan besar itu sangat identik dengan Warlus.

“Saya nggak yakin ini milik Nias, tapi kalau dia dalam bentuk kelompok kemungkinan saya agak sedikit curiga memang bisa ditemukan di daerah Nias karena kebetulan Nias adalah laut lepas. Karena laut lepas bisa didatangi dari banyak makhluk dari daerah lain,” jelas Erni.

Kepada warga, Erni mengimbau agar menjauhi bangkai Walrus dikarenakan bisa terinfeksi penyakit. “Diharapkan warga menjauhi hewan tersebut karena bisa terinfeksi penyakit yang dibawa hewan mati itu,”terangnya. (gus/han/nt)

Bagikan:
Loading...