Diduga Mark Up, Penerima Bantuan Bedah Rumah Kecewa

LINE it!

New Tapanuli.Com – Kecurigaan warga penerima bantuan rehabilitasi Rumah tidak layak huni tahun 2017 di Parlilitan, ternyata sudah berlangsung sejak awal. Pasalnya, di dalam rencana anggaran belanja (RAB) yang diberikan oleh dinas terkait tidak mencantumkan satuan harga bahan material yang akan digunakan.

Ketika penerima memesan bahan kepada panglong, mereka (penerima bantuan) berasumsi bahwa bahan yang dipesan sesuai dengan harga sebenarnya yakni Rp 15 juta per unit. Tetapi karena dinas terkait diduga tidak transparan, menyebabkan beberapa penerima bantuan yang justru menombok setelah diadakan perhitungan bahan bangunan yang diorder dari pihak panglong.

“Sebenarnya, dari awal kecurigaan itu sudah ada. Kami hitung-hitung, bahan yang kami pesan dengan harga sebenarnya, bisa kami pastikan nominalnya tidak sampai Rp 10 juta,” ujar salah seorang warga penerima bantuan kepada New Tapanuli yang enggan identitasnya dikorankan, Sabtu (5/3).

Dia (narasumber) mengungkapkan, sejak dari awal bersama temannya sesame penerima bantuan mengaku bingung. Sebab, dari mulai pembukaan rekening sampai pencairan dana yang dilakukan 2 tahap, mereka tidak pernah melihat mata uang sepeser pun. Mereka hanya dimintai tandatangan. “Katanya uangnya langsung diberikan kepada toko yang ditunjuk,” ujar sumber koran ini.

Hal lain yang membuat dia tambah curiga karena di dalam RAB dicantumkan ukuran semen 50 kilogram, tetapi yang diterima ukuran 40 kilogram. Namun pada saat perhitungan dengan panglong, harga semen yang dikenakan justru harga 50 kg, yakni Rp 75 ribun
per sak. “Harga semen 40 kg sampai ke tempat saya hanya Rp 65 ribu, kalau pesan banyak justru lebih murah. Bisa turun sampai Rp 62 ribu. Itu hanya salah satu contoh. Belum lagi bahan-bahan yang lain.” ketusnya.

Bahan lainnya seperti batu bata, kata dia, harga batu bata sampai dikampung itu hanya Rp 600 per buah. Dalam perhitungan dikenakan Rp 800 per buah. “Begitu juga dengan bahan-bahan lainnya. Namun demikian, yang namanya bantuan ya, kita pasrah saja” ungkapnya.

Dikatakan, dia bersama 8 warga lain yang turut menerima bantuan tersebut sudah mempertanyakan hal itu kepada pihak panglong. Namun pihak panglong mengatakan mereka hanya mengikuti petunjuk dari pihak dinas terkait. “Seperti itunya semua ito,” ujarnya sumber koran ini menirukan jawaban pemilik toko.

Lebih jauh, narasumber merinci bahwa bentuk bantuan yang dia terima, yakni semen 17 sak, batu bata 3800 biji, seng ukuran 7 kaki 40 lembar, closed 1 buah, pipa 5 inc 2 buah, kosen pintu 2 pcs, kosen jendela 2 pcs, kayu 2 meter kubik, pintu pvc ukuran 70 cm 1 buah.

“Coba bapak hitung dengan harga ril, nominalnya paling-paling Rp 8 atau 9 juta. Ada beberapa warga penerima bantuan itu di kampung saya. Semua mengalami hal yang sama,” kesalnya. Diberitakan sebelumnya, Warga di Parlilitan penerima bantuan Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Tahun Anggaran 2017, merasa curiga ada oknum Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perumkim) Humbahas yang bermain pada bahan atau material bangunan yang diterima.

Pasalnya, batu, semen, seng dan bahan material lainnya yang mereka terima sepertinya tidak sebanding dengan nilai Rp 15 Juta. “Kalau kami yang membelanjakan dana tadi mungkin akan lebih banyak dari bahan yang kami terima ini,” kata salah seorang warga Sibulbulon, baru-baru ini kepada New Tapanuli. “Semen yang tertuang di RAB seharusnya ukuran 50 kg, tetapi yang sampai kepada kami hanya ukuran 40 kg,” ungkapnya curiga.

Kadis Perkim Ir Rocky Feller Simamora, melalui Sekdis Jamarlin Siregar didampingi Kasie Pembangunan dan Pemeliharaan sekaligus Pimpro RTLH Candro Purba saat dikonfirmasi, Jumat (2/3) membantah dugaan mark up tersebut. “Siapa masyarakatnya. Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang buat masyarakat dengan pendampingan fasilitator, Perumkim hanya sebagai verifikator dan inisiator. Jelas, harga RAB setiap lokasi dan kecamatan pasti berbeda,” kilahnya. (sht/int)

Loading...