Buta Huruf Sejak Kecil, Kini Bertekad Belajar Baca Tulis

Bagikan:
Tamuri bersama para pasien operasi katarak gratis mendengar arahan relawan guna menjaga perawatan pasca operasi, Senin (15/10/18).

“Aku tidak tahu, tapi aku lihat,” kata Rahama Tamuri Lahagu, saat relawan dari mahasiswa melakukan visus (tes ketajaman penglihatan) pasca operasi katarak, dengan angka berbagai ukuran pada papan berjarak enam meter, Senin (15/10) di RSU TNI AD Losung Batu, Kota Padangsidimpuan.

Samman Siahaan, Padangsidimpuan

Namun tidak jadi masalah, cara lain dilakukan mahasiswa bernama Sepriani itu. Ia kemudian mengacungkan jarinya sebagai isyarat angka, dan pemuda yang saat ini menginjak usia 17 tahun itu pun dengan lancar melafalkan jumlah jari yang ditunjukkan itu dari satu, empat dan lima dari jarak satu, dua, empat dan enam meter.

Tamuri tercatat sebagai warga Dusun Batugodang, Desa Bange, Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan. Dusun tempatnya tinggal cukup terpencil.

Ia merupakan salahsatu peserta Operasi Katarak Gratis 2018 Tambang Emas Martabe, setelah sang ayah, Ama Rahama Lahagu (45) membawanya ke Markas Kodim 0212/TS di Kota Padangsidimpuan. Itu dari ajakan Babinsa setempat.

Pada dasarnya, Ama Rahama bersama mendiang istrinya, Almarhum I br Hasibuan telah mengetahui anak pertama mereka ini menderita katarak. Saat itu, Tamuri kecil yang masih berusia satu setengah tahun, sering sakit panas dan cacar.

Lantas dokter yang menangani secara medis pada saat itu menyebut Tamuri juga menderita keburaman penglihatan yang disebut sebagai katarak.

Hidup sebagai petani yang menggarap kebun milik warga lainnya, dan kesadaran yang minim membuat Ama Rahama pasrah dan membiarkan penyakit katarak pada anaknya itu menjadi hal yang niscaya dididerita keluarga miskin seperti dirinya.

“Jadi, sudah begitu saja, dibiarkan saja selama ini. Bapak tidak mampu. Ke luar kampung juga jarang. Ibunya juga sudah meninggal saat dia berumur delapan tahun,” cerita Ama Rahama, menerangkan bagaimana peliknya upaya perawatan anaknya selama ini.

Kini, Tamuri telah dewasa. Ia tumbuh dewasa tanpa menikmati bangku sekolah. Alasannya selain akses fasilitas pendidikan yang jauh hingga jarak tujuh kilometer, juga lantaran Tamuri sejak kecil tidak bisa melihat dengan terang.

Aktvitasnya selama ini terbatas. Hanya dari rumah ke kebun. Hingga akhirnya, Tamuri bukan saja tidak bisa melihat, ia juga buta huruf dan angka.

Tamuri menuturkan, keinginannya sangat kuat untuk dapat membaca dan mengenal angka. Tak hanya itu, ia juga ingin mengenali secara citra, wajah-wajah teman sebayanya yang selama ini ia bedakan lebih hanya dari suaranya.

“Kerjanya selama ini di kebun. Memang pernah juga diajak pendeta belajar di sekolah buta huruf di kampung, tapi kan mataku tidak bisa melihat. Jadi nanti, setelah ini, saya akan belajar membaca,” kata pemuda yang telah mendapat operasi katarak di dua matanya itu.

Setelah menerima arahan untuk kembali lagi pada 10 November mendatang, serta menerima paket obat rawat lanjutan dari para relawan A New Vision. Tamuri yang tak lagi harus dituntun berjalan oleh sang ayah, telah bersiap untuk pulang ke rumah mengejar tekadnya, bisa baca tulis.

Mereka pun berterimakasih pada relawan, TNI dan PT Agincourt Resources yang telah mengadakan operasi katarak gratis ini. (*)

Bagikan:
Loading...