Ikut Kelas Gratis Belajar Bahasa Indonesia di Kampung Jawa, Bangkok

Bagikan:
Iwan Gunawan (baju batik) dan Yurdi Yasmi di depan ibu-ibu keturunan Jawa yang belajar bahasa Indonesia di Masjid Jawa, Bangkok. (Amri Hustiani/Jawa Pos/New Tapanuli)

SECARA yuridis, mereka sudah menjadi warga negara Thailand. Namun, demi menjaga ikatan batin dengan tanah leluhur itu, mereka semangat belajar bahasa Indonesia. Berikut laporan wartawan Jawa Pos AMRI HUSNIATI yang baru pulang dari Negeri Gajah Putih tersebut.

“MY grandfather from Sumarang (maksudnya Semarang, Red).” Kalimat itu meluncur dari bibir Kitinapa. Polisi wanita itu menuturkan, darah Jawa yang mengalir di tubuhlah yang membuat dia ingin belajar bahasa leluhur.

Kitinapa mengaku asing dengan bahasa tanah kelahiran sang kakek. Lantaran di rumahnya di Kampung Jawa, Bangkok, Thailand, memang tidak pernah menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa tuturan.

Gelora perempuan yang akrab disapa Anne itu untuk belajar bahasa Indonesia kian kuat.

Ketika perempuan yang mengantongi sejumlah medali kejuaraan menembak dan melempar pisau antarpersonel militer semua angkatan di Thailand tersebut berkesempatan menjejakkan kaki ke Nusantara.

“Saya pernah ke Bromo, juga Bali,” lanjutnya dalam bahasa Inggris.

Gayung bersambut. Kesempatan itu terbuka lebar ketika dia mendengar ada program belajar bahasa Indonesia di Masjid Jawa. Lokasinya bisa dijangkau dengan jalan kaki santai sekitar 20 menit dari BTS Saphan Taksin, tidak jauh dari destinasi wisata Asiatique, Bangkok.

Minggu lalu (3/2) menjadi pertemuan perkenalan bagi mereka yang berminat untuk belajar bahasa Indonesia. Kelasnya menempati lantai 2 di masjid yang didirikan pada 1908 itu. Semuanya gratis.

“Program belajar bahasa Indonesia ini sudah dimulai sejak 2016. Setiap angkatan, lama belajarnya 3 bulan. Di akhir program ada ujian,” jelas Yurdi Yasmi, aktivis diaspora Indonesia di Thailand, yang menggagas program tersebut.

Siang itu peminatnya mutlak kaum hawa. Total sepuluh orang. Dengan latar belakang berbagai profesi. Ada yang polisi wanita seperti Kitinapa, ada juga Yaowaluck yang pekerja swasta telekomunikasi, bahkan ada yang pensiunan dosen, yaitu Rahayu alias Phempan Siriwattana.

Berbeda dengan yang lain, Rahayu sudah lancar melafalkan kalimat dalam bahasa Indonesia. “Saya pernah belajar setahun di Universitas Gadjah Mada. Di sana saya tinggal di Asrama Ratnaningsih,” kenang nenek lincah kelahiran 1950 itu.

Rahayu merasa beruntung berkesempatan mencicipi atmosfer di Jogjakarta. Apalagi, kampung halaman ayahnya adalah Magelang. Jadi, dia bisa sekaligus napak tilas ke sana.

Bapak Rahayu yang menjadi Heiho sejak dikirim ke Thailand pada masa penjajahan Jepang memilih tetap tinggal di sana. Akhirnya, dia bekerja di Kedutaan Indonesia di Bangkok.

Dari nol puthul bahasa Indonesia, akhirnya Rahayu bisa cakap lancar. Sepulang dari Kota Gudeg, kemampuan bahasa Indonesia pensiunan dosen bahasa Prancis di Hatyai, Thailand Selatan, itu sudah bisa diandalkan. Bahkan, dengan sukarela dia membagikan ilmunya itu. Rahayu menyusun buku panduan belajar bahasa Indonesia dengan bahasa pengantar Thailand.

Toh, kendati sudah lumayan fasih, Rahayu yang sudah menjadi warga negara Thailand merasa tetap perlu ikut kelas bahasa Indonesia. Ini untuk menjaga memorinya. Juga, sebagai ajang silaturahmi dengan mereka yang punya ikatan psikologis dengan Indonesia.

Suasana kelas bahasa Indonesia itu sendiri mirip dengan anak yang baru belajar mengeja. Sebagian besar peserta awalnya sulit mengucapkan kata-kata dalam bahasa Indonesia.

Untuk sekadar mengucapkan kata “per-ke-nal-an”, “ber-bi-ca-ra”, ataupun “bel-a-jar”, peserta kudu mencoba melafalkan beberapa kali. Sampai Iwan Gunawan, volunter yang hari itu menjadi pengajar, mengatakan cara pengucapannya sudah benar dan memberikan aplaus.

Memang, ada perbedaan pelafalan antara bahasa Indonesia dan bahasa Thailand, yang antara tulisan dan cara bacanya berbeda. Misalnya, khob-khun-krab yang dibaca kha-pung-kab, artinya terima kasih. Ada sengau-sengaunya.

Konsonan dalam bahasa Thailand ada 44. Sementara huruf vokalnya juga jauh lebih banyak, 32. Selain yang lazim kita kenal a-i-u-e-o, ada pula misalnya vokal aeo-uea-oe-ui-ai-uai. Lebih kompleks, ya.

Nah, agar lebih santai, pembelajaran bahasa Indonesia di kelas diselingi dengan nyanyian Balonku, tapi syairnya diubah.

Nama saya…. (peserta bergantian menyebutkan sesuai nama masing-masing)

Saya dari Thailand

Saya tinggal di Bangkok

Sudah lama sekali

“Suaranya yang keras, ya. Jangan malu-malu. Jangan takut salah kalau belajar bahasa Indonesia,” ujar Iwan yang mengenakan hem batik dan udeng di kepala.

Suasana kian cair karena sambil belajar, peserta boleh menikmati camilan. Yang menarik, kudapan itu sumbangan dari mereka yang datang. Ada yang sukarela membawa bakpao, keripik singkong, pastel, dan buah.

“Singkongnya ini saya goreng sendiri. Makanya gosong, ya,” ujar Heru Herlambang, lantas tertawa. Mahasiswa S-3 di Universitas Chulalongkorn itu juga meluangkan waktu untuk jadi volunter di kelas bahasa Indonesia.

Pengajar bahasa Indonesia di Kampung Jawa itu memang variatif. Ada yang bekerja sebagai guru SMP, mahasiswa, dosen, pekerja swasta, bahkan ada juga yang pilot.

“Total sejak kelas bahasa Indonesia ini dibuka, ada 15 orang yang mengajar bergantian,” jelas Yurdi yang bekerja di PBB.

Para peserta kelas bahasa Indonesia umumnya adalah generasi ke-3 dan beberapa generasi ke-5 maupun ke-6 keturunan orang Jawa. Sebagian di antara mereka itu cucu dan cicit rombongan orang Jawa yang dibawa ke Bangkok pada masa Raja Rama V (1853-1910). Kala itu orang Jawa dipekerjakan membangun taman di Istana Kerajaan Thailand serta membangun kanal dan gedung-gedung pemerintahan.

“Dari beberapa kelas yang pernah kami bikin, peserta termuda berusia 17 tahun. Yang tertua 73 tahun,” imbuh Yurdi.

Kendati kelas bahasa diadakan di Masjid Jawa, tidak berarti hanya mereka yang muslim yang ikut kelas. Misalnya, Yaowaluck yang akrab disapa mam. Pegawai swasta kantor telekomunikasi itu datang tepat waktu, sebelum pukul 10.00, untuk ikut kelas.

“Karena tuntutan pekerjaan, saya harus keliling ke mana-mana. Dan saya juga senang jalan-jalan ke luar negeri. Sekaligus belajar bahasa dan budaya negara lain,” tuturnya beralasan.

Di pengujung pertemuan, Iwan mengumumkan bahwa kelas bahasa Indonesia itu terbuka untuk siapa saja. “Silakan bawa teman sebanyak-banyaknya ke sini. Minggu depan kita belajar tentang mengucapkan salam dan perkenalan,” ujar Iwan. Dan kelas pun diakhiri dengan baca doa yang dipimpin Mbah Rangsan, imam masjid. (*/nt)

Bagikan:
Loading...