FX Sudaryanto dan Eti Nopianti Donor Darah hingga Berbuah Penghargaan

Bagikan:
FX Sudaryanto dan Eti Nopianti menunjukkan kartu donor darahnya. (Ferlynda/Jawapos/New Tapanuli)

SUDARYANTO dan Eti rutin mendonorkan darah sampai lebih dari 100 kali meski sempat kecewa kepada PMI. Kali pertama berdonor, Eti sampai harus bolos sekolah. Adapun kedisiplinan Sudaryanto menyumbangkan darah tak putus di kota mana pun dia tengah berada.

FERLYNDA PUTRI, Jakarta

Sudah 106 kali lipatan tangan F.X. Sudaryanto ditembus jarum. Itu yang tercatat. Sebab, beberapa kali juga posisi jarum harus diganti karena tidak nemu nadi. Tapi, dia tidak kapok. Malah ketagihan.

”Saya tidak ada pantangan untuk makan. Kambing boleh, duren malah suka,” kata Sudaryanto yang ditemui Jawa Pos di markas PMI (Palang Merah Indonesia) Pusat, Jumat lalu (25/1).

Padahal, usianya sudah 76 tahun. Kebanyakan orang bakal berhitung benar untuk mengonsumsi kambing atau duren, bahkan ketika usianya masih 40-an tahun.

Tapi, hasil memang tak pernah mengkhianati usaha. Apa yang dituainya hari ini merupakan buah kebiasaannya berdonor darah yang sudah dilakoni sejak usia 30-an tahun.

Sudah lebih dari 100 kali dia melakukannya. Untuk dedikasinya itu, Sabtu lalu (26/1) di Jakarta Sudaryanto diganjar penghargaan Satyalencana Kebaktian Sosial dari presiden. Penyerahan dilakukan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mewakili Presiden Joko Widodo.

Mendapatkan penghargaan tentu bukan motivasi Sudaryanto untuk mendonorkan darah. Dia hanya ingin berdonor darah.

Kebiasaan tersebut dimulai ketika kantornya mengadakan bakti sosial donor darah. Entah dari mana, saat donor kali pertama itu, Sudaryanto merasa mendapat bisikan agar berjanji selalu donor darah.

”Saya cuma karyawan biasa, bukan jutawan. Jadi, ini sebagai wujud sedekah saya,” ucap Sudaryanto.

Mulanya, dia hanya setahun sekali berdonor. Merasa badannya lebih enteng pascadonor, akhirnya dia menambah jadwal menjadi dua kali setahun. Bukannya lemas, bapak tiga anak itu justru semakin sehat. Akhirnya, dia memutuskan untuk donor darah tiga bulan sekali.

”Saya sempat tanya dokter, sampai kapan bisa donor? Katanya bisa kapan pun asal sehat,” ucapnya.

Ucapan itulah yang terus dipegang Sudaryanto. Dia menjaga pola makan dan terus berolahraga. Sekaligus menjaga disiplin beristirahat.

Menjelang donor ke-60, PMI mengeluarkan aturan bahwa mereka yang donor tidak boleh lebih dari 65 tahun. Hal itu membuat Sudaryanto sedih. Namun, dia ingat ucapan dokter yang dulu ditanyainya. Dia pun tak pantang menyerah untuk berdonor.

”Saya sering ditolak. Apalagi kalau yang menangani adalah dokter muda,” ungkapnya.

Penolakan tak menyurutkan niatnya. Dia tetap nekat untuk donor. ”Sampai akhirnya saya menghadap kepala PMI Kramat (PMI DKI Jakarta, Red) untuk diizinkan donor,” imbuh Sudaryanto.

Langkah itu pun tidak sia-sia. Tiap kali hendak donor, dia pergi ke PMI. Tidak melulu di Jakarta, saat mengunjungi anaknya di Solo pun, dia donor.

Pria yang tinggal di kawasan Palmerah, Jakarta, itu juga tak ragu untuk mengiyakan kerabat atau tetangga yang memintanya menjadi donor. Dia merasa senang ketika darah B-nya berguna untuk sesama.

Kebiasaan donor darah juga menular kepada anak bungsunya, Yohanes Aripraba. Menurut cerita Sudaryanto, putranya itu sudah 35 kali rutin donor darah. ”Kalau yang pertama dan kedua ini mungkin karena kesibukannya. Tapi, mereka juga pernah donor,” ungkapnya.

Pendonor lain yang mendapat penghargaan adalah Eti Nopianti. Perempuan 45 tahun itu juga sudah lebih dari 100 kali donor darah sukarela. Sebagai perempuan, menurut dia, menjadi pendonor rutin itu tidaklah mudah.

”Kalau perempuan itu ada masanya menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Pasti ada jedanya,” ucapnya saat ditemui di tempat yang sama.

Eti mulai donor darah sejak SMA. Tepatnya saat berusia 18 tahun. Saat itu tidak ada mo¬≠tivasi apa pun untuk berdonor. ”Entah kenapa pengin saja,” kenangnya.

Donor darah pertama itulah, menurut dia, yang paling membekas di ingatan. Sebab, dia harus bolos sekolah untuk donor di PMI Kota Bogor.

Seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang membantu, gerbang sekolah yang biasanya dikunci dan dijaga petugas satpam waktu itu terbuka lebar. Aksi membolosnya pun mulus.

”Tapi, donor selanjutnya izin kepala sekolah. Waktu itu donor darah hanya dilayani hingga jam 12 siang,” tuturnya.

Dia sempat tidak donor saat mulai kerja. Eti bekerja di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, sedangkan rumahnya di Bogor. Perlu waktu 2 jam untuk pergi ke PMI Kota Bogor. ”Saya cari PMI terdekat dan ketemu PMI Kramat yang ternyata buka 24 jam,” bebernya.

Ibu satu anak itu pun semakin bersemangat donor. Dia donor tiga bulan sekali. ”Donornya selesai kerja. Lalu, tengah malam naik bus dari Terminal Blok M,” imbuhnya.

Namun, dua belas tahun lalu dia sempat vakum donor selama tiga tahun. Sebab, Eti harus menjalani persalinan secara Caesar.

Sebenarnya, perempuan yang melahirkan secara Caesar boleh donor lagi setelah setahun. ”Untuk memulai lagi, memang tidak mudah,” ungkapnya.

Hingga kini, dia terus berdonor. Namun, durasinya berkurang menjadi setahun dua kali. ”Sehabis mendapatkan penghargaan, saya tetap donor. Kan donor bukan untuk mendapat penghargaan,” ujarnya.

Pengurus Pusat Ketua Bidang Unit Donor Darah dan RS Linda Lukitasari menyampaikan, ada 840 orang yang mendapat penghargaan. Namun, di antara mereka, hanya 21 yang perempuan.

”Pendonor perempuan ini memang jarang yang sampai 100 kali,” ucap perempuan dengan golongan darah B itu.

Eti mengaku sempat kecewa kepada PMI. Beberapa waktu lalu ibunya membutuhkan lima kantong darah golongan A karena harus menjalani operasi kanker mulut rahim. Waktu itu di Bogor sulit sekali mencari darah golongan A.

”Saya sempat bertanya kenapa saya yang sukarela mendonorkan darah, tapi malah kesulitan mencari darah. Padahal, saya juga mau beli,” tuturnya.

Namun, kekecewaan itu tidak sampai membuatnya berhenti berdonor. ”Jika banyak orang yang enggan donor, makin banyak yang sulit mencari darah seperti yang pernah saya alami,” katanya. (*/nt)

Bagikan:
Loading...