Temukan Ranjang dan Kulkas Bekas di Pulau Tak Berpenghuni

Bagikan:
Swietenia Puspa Lestari saat berada di warungnya. (ANISATUL/JAWAPOS)

Salah satu musuh utama lingkungan di Kepulauan Seribu adalah sampah plastik. Lebih khusus lagi sedotan plastik dan kemasan air minum. Bersama teman-teman yang sevisi dan sehobi, Swietenia bergerak. Dia bertekad menjaga kebersihan laut.

ANISATUL UMAH, Jakarta

GAMBAR-gambar mengerikan itu menjadi viral di berbagai media. Darah mengucur dari seekor kura-kura saat sedotan plastik dicabut dari hidungnya.

Ada pula bangkai burung dan paus yang di perutnya ditemukan berbagai jenis sampah plastik. Pemandangan memprihatinkan juga terpampang di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Sampah di permukaan dan dasar laut sama banyaknya.

Berdasar data dari program bersih pantai, di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, saja, dalam area 100 meter persegi ditemukan sampah seberat 15 kg di dasar laut. Itu belum termasuk sedotan plastik sebanyak 932 buah.

Beragam fakta memprihatinkan tersebut memantik kepedulian Swietenia Puspa Lestari. Dia lalu merintis komunitas Divers Clean Action pada November 2015. Mengapa memakai nama divers? Swietenia memang seorang penyelam. Saat SD dia suka menyelam di laut Kepulauan Seribu. Saat itulah dia jatuh cinta dengan keindahan alam bawah laut. Waktu itu kondisi laut masih bersih. Tidak ada sampah bertebaran. “Dulu masih ada ikan dan terumbu karang. Sekarang yang kelihatan malah sampah,” katanya.

Setelah tamat SMA, Swietenia berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia mengambil jurusan teknik lingkungan. Di bangku kuliah itulah dia belajar lebih banyak tentang pengelolaan sampah. Muncul pertanyaan dari dirinya: mengapa jarang NGO (non-governmental organization atau lembaga swadaya masyarakat/LSM) yang berfokus pada sistem sampah di pulau-pulau kecil? Padahal, problem sampah di sana sangat parah.

Bagikan:
Loading...