Desmonda Paramartha, Korban Bom Gereja yang Tak Sabar Lanjutkan Hidup

Desmonda Paramartha (duduk di kasur) saat dikunjungi Jemaat Gereja SMTB.
LINE it!

Nggak enak, Kak, ujian sendirian. Lagi pula, aku harus tunjukkan kalau aku nggak takut. Bukan cuma di mulut, tapi pesan nyata ya lewat aksi. Semua akan baik-baik saja.

RESVIA AFRILENE, SURABAYA

KALIMAT itu diutarakan Desmonda Paramartha ketika ditanya kenapa bersikeras ingin ikut ujian akhir semester (UAS) di kampusnya, Universitas Katolik Widya Mandala, Senin (21/5). Perempuan 20 tahun itu tidak trauma dengan bom yang membuatnya harus menjalani operasi berjam-jam untuk mengeluarkan serpihan metal yang masuk ke tubuhnya. Dia malah khawatir dengan teman-temannya yang kini agak ketakutan.

“Kalau saya datang ke kampus, teman-teman pasti jadi ikutan berani,” kata perempuan yang tercatat sebagai mahasiswi semester IV di jurusan bahasa Inggris FKIP tersebut. Karena insiden bom di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5), Desmonda harus menghabiskan sekitar lima hari di RS Bedah Surabaya. Jumat (18/5) dia diperbolehkan pulang karena kondisinya stabil.

Kediamannya yang berada di kawasan Ngagel Rejo Lebar tiba-tiba menjadi tempat yang sangat dirindukan. ”Rasanya plong banget waktu bisa lihat rumah lagi.

Duduk di ruang keluarga. Istirahat di kasur kesayangan,” ujarnya riang. ”Besok langsung harus fokus belajar buat UAS. Ketinggalan banyak soalnya,” lanjutnya.
Desmonda mengaku tak bisa bicara banyak karena masih ada luka di lehernya.

Dia menggunakan hari pertamanya di rumah untuk beristirahat dan memperbanyak doa. Apalagi, dia diberi Maria Peta oleh Romo Thomas Agustinus Wibowo yang mengunjunginya di rumah sakit bersama rombongan jemaat Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) Kamis (17/5). ”Aku sama sekali sudah nggak trauma kok. Malahan segera kepingin lihat kondisi gereja,” katanya.

Loading...