Sepenggal Cerita Suku Badui Dalam, Jika Poligami Diasingkan

(f/Istimewa)
Narip(23) alias Idong (bajun putih), berpose dengan sahabat karibnya Samani (21) alias Yayat, di Jembatan Akar, Badui Luar.
LINE it!

JIKA ada masyarakat suku di kepulauan nusantara yang masih memegang teguh adat istiadatnya, salah satunya adalah Suku Badui Dalam. Ratusan tahun secara turun temurun, mayoritas warga Suku Badui Dalam masih teguh memegang prinsip dan aturan adat istiadatnya.

OLEH: KUSWANDI

Jika tak kuat, maka harus keluar dari kampung halamannya, bermigrasi ke kampung di wilayah Suku Badui Luar.
Cahaya bulan purnama terang menyinari Kampung Cibeo, salah satu dari tiga perkampungan di wilayah Suku Badui Dalam, Sabtu (28/4) malam. Semburat cahayanya menembus lubang bilik bambu dan atap rumah salah satu warga yang terbuat dari dedaunan.

Meski kalah terang jika dibandingkan dengan cahaya lampu listrik, namun cukup membuat rumah tersebut tak gelap gulita, dan seluruh penghuninya bisa tidur nyenyak, meski beralaskan tikar yang terbuat dari daun pandan.

Tak ada listrik, internet atau hingar bingar suara radio dan televisi. Hanya suara jangkrik dan binatang malam lain yang menjadi hiburan ratusan penduduk warga yang masuk dalam wilayah Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Saat mandi, ratusan penduduk Suku Badui tak boleh menggunakan sabun, keramas dengan sampo dan sikat gigi dengan menggunakan odol. Hal ini juga berlaku untuk seluruh tamu yang datang. Mereka wajib mengikuti aturan adat yang sudah dilakukan secara turun menurun secara bertahun-tahun. Jika melanggar, maka siap-siap akan ditegur dan menerima sanksinya.

“Orang Badui haknya ngurus adat, pertanian, bukan sekolah,” kata Jaro Sami, salah satu tokoh masyarakat Suku Badui Dalam di wilayah Kampung Cibeo, saat berbincang dengan JawaPos.com, Minggu (29/3) pagi kemarin.

Atas adanya larangan tersebut, praktis, semua anak Suku Badui Dalam tak ada yang mengikuti sekolah formal pada umumnya anak-anak lain di Indonesia. Mereka hanya mendapat pelajaran sekolah seperti menulis dan membaca dari tamu-tamu yang datang saban pekan, saat berkunjung ke kampung halamannya.

“Kenapa larang sekolah karena takut kalau sudah pintar keluar dari Badui Dalam,” jelasnya sembari tangannya membelah bambu untuk dibuat tutus (tali pengikat atap rumah).

Selain melarang bersekolah, menurut Jaro Sami, anak Suku Badui Dalam juga dilarang memiliki dan menaiki berbagai kendaraan. “Boleh lihat mobil tapi nggak boleh naik mobil,” jelasnya.

Dengan adanya larangan ini, praktis ratusan warga Suku Badui Dalam, kemana-mana harus jalan kaki tanpa menggunakan alas kaki. Ini bukan karena takut diasingkan di wilayah Badui Luar jika terbukti melakukan pelanggaran. Namun, ini murni karena mayoritas warga Suku Badui Dalam masih memegang erat adat istiadatnya.

Hal ini dibenarkan oleh Narip (23), salah satu warga Suku Badui Dalam yang sudah beberapa kali pergi ke Jakarta untuk silaturahmi dan berdagang.

“Saya baru saja pulang dari Jakarta dengan jalan kaki. Di sana sekitar sepuluh harian,” kata Narip kepada JawaPos.com.

Loading...