Sering Menggratiskan Biaya Pengobatan, Pernah Dibayar dengan Ayam

Bagikan:
DOKTER SAYUR: dr Dian Agung Anggraeny saat melayani pasien yang membayarnya dengan hasil bumi.

Dokter cantik asal Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini, bisa dibilang sebagai dokter yang unik.

Bagaimana tidak, wanita bernama lengkap dr Dian Agung Anggraeny itu tidak pernah memberikan tarif pada jasa dokternya. Namun seringkali, pasien yang datang berobat membayarnya dengan sayur mayur, hasil bumi, kue, makanan bahkan ayam.

Praktik membayar jasa medis yang dia berikan dengan hasil bumi itu sudah dilangsungkan sejak tahun 2007, saat pertama kali wanita 39 tahun itu membuka praktik dokter umum. Akibat aksi nyelenehnya tersebut, sontak ia menjadi terkenal di Malang Raya.

Bukan hanya membebaskan pasiennya membayar dengan hasil bumi, namun dokter Dian yang akrab disapa Umi ini juga tidak jarang menggratiskan jasa medis yang diberikannya kepada pasien. Mau dibayar atau tidak, ia tetap memberikan pelayanan terbaiknya kepada seluruh pasien.

Seperti yang terlihat saat dia melayani dua pasien, di kliniknya, ketika JawaPos.com berkunjung ke kediaman sekaligus tempat praktiknya, Jumat (20/4) kemarin.
Dokter Sayur

Pasien laki-laki bernama Slamet, 50, ini berasal dari Blitar. Dia menderita tipoid. Usai mendapatkan perawatan bukannya mengulurkan sejumlah uang, namun malah memberikan ayam jago yang sudah disembelih dan dicabuti bulunya.

“Ya gini pasien saya, lucu ya. Mereka menyenangkan. Saya tidak memaksa atau mematok tarif. Bebas saja,” kata Dian sembari tersenyum.

Masih di waktu yang sama, ada juga sepasang suami istri yang datang berobat. Berbeda dengan Slamet, kedua orang ini justru tidak membayar. Hanya mengucapkan kata suwun alias terimakasih usai mendapatkan perawatan. Ada lagi, dua wanita muda yang datang dengan membawa beberapa ikat sayur dan jagung.

“Ya gimana lagi masa mereka tidak dilayani kalau tidak membayar. Ya harus tetap dilayani, namanya saya orang kesehatan,” beber alumni Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya itu.

Setiap hari, dia melayani 25 pasien rawat jalan. Dari jumlah itu, selalu saja ada yang membayar dengan sayuran atau hasil bumi lainnya.

Semua pasien itu juga mendapatkan pelayanan yang baik dan obat-obatan. Menggratiskan biaya pengobatan atau menerima bayaran berupa makanan, bukan uang, juga berlaku untuk pasien rawat inap.

Bagikan:
Loading...