Musisi Yockie Suryo Prayogo, Sosok Kreatif, Selalu Membuat Sesuatu yang Berbeda

Bagikan:
Yockie Prayogo

Dunia musik tanah air kembali berduka. Yockie Suryo Prayogo kemarin pagi mengembuskan napas terakhir di usia 63 tahun. Konser Menjilat Matahari yang digelar pada 11 Oktober 2017 seakan menjadi salam perpisahan sang maestro.

JUNEKA S.M.-NORA S., Jakarta

MENYEBUT nama Yockie Suryo Prayogo sama halnya dengan menyebut sederet karya besar dalam sejarah musik Indonesia. Album Badai Pasti Berlalu (1977) yang dia kerjakan bersama Eros Djarot dan Chrisye merupakan album terbaik Indonesia sepanjang zaman versi Rolling Stone Indonesia (dan juga versi jutaan penikmat musik).

Eros ingat betul, ketika itu, setelah menciptakan lagu-lagu untuk film Badai Pasti Berlalu, dirinya mencari sosok yang cocok untuk mengerjakan aransemen musiknya. Walau ketika itu Yockie dikenal sebagai rocker, Eros melihat ada sentuhan kreativitas di balik itu yang belum dieksplorasi. “Saya datang ke rumahnya, kami diskusi. Kita coba eksplor, mengekstrak not-not di wilayah klasik,” tutur Eros, yang ketika dihubungi tadi malam baru mendarat dari Medan.

Yockie, yang kelahiran 14 September 1954, mulanya berangkat dari musik klasik. Namun, jelajah kreativitasnya meluas dengan berbagai genre lain, menjadikan aransemennya kaya akan eksplorasi. Rock, progresif, juga pop. Kerja sama mereka terus berlanjut. “Saya bikin lirik, dia mengisi piano. Notasi, saling mengisi. Sudah seperti senyawa,” ucapnya.

Bagi Eros, Yockie merupakan arranger yang luar biasa. “Badai Pasti Berlalu kalau bukan dia yang aransemen mungkin tidak akan sebagus itu,” ungkap Eros Di mata Eros, Yockie merupakan sosok yang selalu gelisah. Selalu mencoba membuat sesuatu yang berbeda. Keras kepala. Tapi, itulah ciri seorang seniman. Yockie mungkin tidak mudah dipahami beberapa musisi lain. “Kalau buat saya, dia sudah seperti adik. Saya sangat kehilangan,” tutur Eros, yang tidak bisa menghadiri pemakaman Yockie karena menjadi pembicara sebuah acara di Medan.

Yockie mengembuskan napas terakhir kemarin (5/2) pukul 07.35 WIB di RS Pondok Indah, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Mantan personel band legendaris God Bless itu pergi untuk selamanya di usia 63 tahun. Tapi, kenangan Yockie tetap hidup dalam hati dan benak teman-temannya.

Gitaris God Bless Ian Antono yang datang ke pemakaman mengenang Yockie sebagai orang yang sangat idealis dalam bermusik. Tidak ada kompromi untuk aransemen yang jelek. Kalau sudah begitu, cekcok tak jarang terjadi.

“Dulu pernah, saat rekaman God Bless, drumnya Teddy Sujaya. Kalau ndak enak, dia (Yockie, Red) ndak pakai kompromi, diganti aja sama mesin. Cuman, saya ngerti maksudnya dia bagus,” kata Ian.

Bagikan:
Loading...