Kekecewaan Tak Ada Respon, Akhirnya Membuat Pengaduan

Bagikan:
Pelapor Japaya Sitorus ketika menerima rombongan uspika dalam proses perdamaian kasus pengrusakan yang melibatkan Nenek Saulina.

Japaya Sitorus selaku pelapor kasus pengrusakan itu menyangkal kalau persoalan yang tengah menyita perhatian itu ada unsur balas dendam. Dia juga mengatakan bahwa persoalan ityu bukan karena ganti rugi. Menurutnya, selaku orangtua di kampung Nairasaon tersebut, dirinya berulangkali kecewa atas sikap keluarga Naiborhu.

Freddy Tobing, Oloan Sirait, TOBASA

Diakuinya, memang ada sakit hati atas persoalan yang menimpa anak dari adiknya ketika dilaporkan oleh keluarga Naiborhu. Namun menurutnya hal itu telah dimaafkan, mengingat mereka masih memiliki hubungan kekerabatan dan tinggal berdekatan.

Ganti rugi yang ia ajukan saat munculnya perkara pengrusakan itu juga ia benarkan. Namun, di balik itu, ada banyak hal yang membuatnya kecewa dengan sikap keluarga Naiborhu. Salah satunya, keluarga Naiborhu dinilai tidak menghargai punguan Nairasaon (perkumpulan marga Manurung, Sirait, Sitorus, Butarbutar) selaku pemuka kampung itu. Sementara posisi keluarga Naiborhu di kampung tersebut adalah dari pihak Boru (menantu di kampung itu).

Japaya memaparkan, dari awal proses pembangunan makam telah membuatnya kecewa. Dimana pihak keluarga Naiborhu tidak secara terang-terangan mengundang penatua kampung saat penghunjukan lokasi makam. Dimana menurutnya, makam yang disebutkan sebagai makam Boigodang Naiborhu atau Op Sadihari tidak ada pertanda.

“Sebenarnya tidak ada pertanda, baik batu nisan atau bentuk lainnya. Hanya ada batu besar di lokasi itu (makam). Lantas, akhir tahun 2016 lalu, mereka (keluarga Naiborhu) mengundang orang pintar dan akhirnya menunjukkan lokasi tersebut sebagi makam leluhur mereka,” jelasnya.

Setelah penghunjukan lokasi makam, keluarga Naiborhu membersihkan areal makam pada 9 Februari 2017. Saat itu ada beberapa batang pohon kopi yang ditebang. Itu pun tanpa permisi kepada Japaya. Perlakuan itu membuatnya kembali kecewa. Hal itu disampaikan kepada kerabat keluarga Naiborhu, juga kepala desa setempat.

Lantas, Japaya didatangi beberapa orang istri dari keluarga Naiborhu untuk minta maaf. Meski sedikit kecewa, Japaya mengaku tetap memaafkan hal itu dan menitip pesan agar penebangan tanaman cukup di lokasi makam sekitar 4×4 meter.

Di samping itu, Japaya menyarankan agar makam dipindahkan, mengingat kondisi tanah makam berada di lokasi yang terjal, sehingga tidak leluasa membangun. Pesan itu diaminkan mereka yang hadir.

Tak disangka, beberapa hari kemudian, kembali terjadi penebangan tanaman, di antaranya pohon durian, petai, coklat dan alpukat. Japaya pun menyampaikan kekecewaannya kepada keluarga Naiborhu. Sayangnya tidak ada respon. Akhirnya dia membuat pengaduan ke Mapolsek Lumbanjulu atas pengrusakan itu.

“Yang saya adukan satu orang, hanya Maston Naiborhu,” jelasnya.

Atas laporan itu, personel Polsek Lumbanjulu turun ke lokasi kejadian. Di sela-sela olah TKP, polisi menyarankan agar kedua belah pihak berdamai. Lantaran perdamaian tidak terwujid, polisi kemudian meningkatkan proses ke penyidikan.

Para saksi dipanggil dan akhirnya menetapkan para tersangka dalam kasus tersebut.

“Kalau tidak salah, hari Selasa tanggal 21 Februari 2017, ada 3 orang yang datang menemui saya mengajak berdamai. Bukan orang yang dari kampung ini. Katanya dari Siantar dan entah darimana lagi. Kenapa bukan mereka yang datang? Kok harus dari luar?” ungkapnya.

Kembali Japaya kecewa atas hal itu. Menurutnya, jika keluraga Naiborhu yang ada di kampung itu enggan datang, masih ada penatua kampung yang lebih tepat mendamaikan mereka, bukan harus menghadirkan dari luar daerah.

Sekitar bulan April, Camat Uluan, Danramil Lumbanjulu dan keluarga Naiborhu datang menemuinya. Saat itu ia menolak damai dengan dalih permintaan ganti rugi Rp50 juta.

“Saya sudah katakan harus penatua di kampung ini yang mendamaikan. Karena bukan masalah ini saja yang perlu kami bicarakan. Sekaligus membicarakan adat yang selama ini ada di kampung kita yang mulai janggal,” ungkapnya.

Keluarga Naiborhu Akan Kembali Digugat

Selain Japaya Sitorus, masih ada pihak lain yang kecewa dalam proses pembangunan makam tersebut, yakni keluarga Butarbutar. Dimana pembangunan makam ukuran 4×5 meter yang dilakukan keluarga Naiborhu telah menimpa sekitar 60 cm makam kerabat Butarbutar dari Dusun Panamean.

“Di sini makam Namboru kami (saudara perempuan ayah). Ini sudah tertimpa lebih setengah meter. Padahal jelas ada pertanda makam,” tutur B Butarbutar (62) sambil menunjukkan lokasi makam yang tertimpa.

Jarak yang telah tertimpa sudah mereka tandai dengan meletakkan satu buah jeruk purut.

Saat proses pembangunan makam Op Sadihari oleh keluarga Naiborhu, pihaknya mengaku tidak mengetahui secara detail. Dimana abang kandungnya yang tinggal di kampung itu sedang sakit dan tidak sanggup naik turun gunung, apalagi ke lokasi makam yang akses jalannya tidak baik. Sedangkan dirinya dan keluarganya tinggal di Medan.

Pembangunan makam yang dilakukan keluarga Naiborhu dulunya hanya batu besar berdiameter sekitar 2 meter. Sama sekali tidak pernah mereka ketahui bahwa batu besar itu adalah makam.

Menurutnya, setelah persoalan bersama Japaya Sitorus selesai, pihaknya akan menyuruh keluarga Naiborhu membongkar makam yang dibangun dari beton itu.

Kekecewaan marga Butarbutar atas bangunan makam juga telah mereka sampaikan kepada Kepala Desa Sampuara Dingin Sitorus. Selaku kepala desa, pihaknya telah menyampaikan keluhan itu kepada keluarga Naiborhu.

“Ya, itu sudah disampaikan sama saya. Solusinya, masih kita pikirkan. Saya pikir lebih baik nanti diselesaikan bersama penatua yang ada di kampung ini,” pungkasnya. (***/ara) habis

Istimewa
Pelapor Japaya Sitorus ketika menerima rombongan uspika dalam proses perdamaian kasus pengrusakan yang melibatkan Nenek Saulina.

Bagikan:
Loading...