Pasarku Sayang Pasarku Malang

Zulfadli Tambunan
LINE it!

Oleh Zulfadli Tambunan

FUNGSI dan peran pasar tradisional sangat strategis dalam peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, maka pembangunan sektor perdagangan merupakan salah satu program prioritas yang telah dikembangkan.

Program tersebut secara simultan dan sinergis áterus dikembangkan untuk memperkuat pasar dalam negeri melalui pemantapan suplai serta menjaga kelancaran dan efisiensi distribusi barang kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah tanah air.

Di balik peran pasar tardisional yang strategis tersebut, diperlukan upaya-upaya dalam rangka meningkatkan daya saing pasar tradisional yang identik dengan sebuah lokasi perdagangan yang kumuh, semerawut, kotor dan merupakan sumber kemacetan lalu lintas.

Citra pasar tradisional yang kurang baik tersebut sudah semestinya mendapat perhatian yang cukup besar, karena di dalamnya terkait dengan hajat hidup orang banyak.

Tahun 2012, oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, pembenahan pasar tradisional Sibabangun, Kecamatan Sibabangun, mulai dilaksanakan. Dana yang sangat spektakuler dikucurkan untuk mengubah pasar yang dulunya kumuh, semerawut dan macet, menjadi sebuah pasar tradisional yang bercitra modernis.

Melalui DAK bidang perdagangan dan APBD tahun 2012, anggaran sebesar Rp1.220.721.200 digelontorkan untuk membangun 1 unit balairung terbuka dan 1 unit balairung tertutup.

Jika dilihat dari kaca mata pasar tradisional, dana pembangunan yang dikucurkan sungguh sangat menakjubkan.

Alih-alih untuk meningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja, tujuan merevitalisasi pedagang yang menggelar lapak di sepanjang jalinsum ke balairung gagal total. Hingga saat ini, para pedagang masih leluasa menggelar lapaknya di pinggiran jalan dan areal parkir yang tersedia.

1 unit balairung terbuka dan 1 unit balairung tertutup kosong melompong dan terkesan mubajir. Tumbuhan semak mulai menjalar menutupi tiang-tiang balairung. Dinding kios yang terbuat dari papan satu demi satu raib entah kemana. Akibatnya, citra pasar tradisional Sibabangun tetap kumuh, semerawut, amburadul dan macet.

Anehnya, walaupun menjadi langganan kemacetan, pasar yang menjadi kebanggaan warga Kecamatan Sibabangun tersebut tetap dibiarkan. Sepertinya pihak pengelola pasar (Dinas Pasar di tingkat kebijakan), tidak memiliki visi dan misi yang jelas, tentang arah dan bentuk pasar tradisional yang dikembangkan.

Tugas pokok pengelola pasar melakukan pembinaan terhadap pedagang, menciptakan kondisi pasar yang kondusif dan layak untuk berusaha serta mengupayakan kelancaran lalu lintas seakan diabaikan.

Pengelola pasar dinilai tidak memahami tugas dan fungsinya sebagai pengelola. Akibatnya, orientasi Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah untuk peningkatan PAD dan peningkatan pelayanan kepada masayarakat, dianggap hanya sebatas angan-angan belaka.

Pembenahan pasar tradisional tentu saja bukan hanya tugas ápemerintah, tetapi juga masyarakat, pengelola pasar dan para pedagang tradisional, harus bersinergi menghapus kesan negatif yang masih tetap melekat.

Penataan loods/kios/lapak yang beraturan, adanya kemampuan dan ketegasan oleh manajemen pasar dalam mengatur kios dan lapak secara baik dan rapi, dalam hal ini pengelola pasar, harus tegas, mana yang memang peruntukkannya mana yang tidak, sehingga bagi yang melanggar dapat dikenakan sanksi.

Namun yang terpenting, komitmen diri dari masing-masing pengelola dan pedagang adalah hal yang utama untuk membangun dan mengembangkan pasar tradisional Sibabangun menjadi salah satu pasar yang bisa dibanggakan kualitas maupun kuantitasnya.

Peningkatan fungsi dan daya tarik pasar tradisional Sibabangun yang khas dan unik dengan tingkat kenyamanan, keamanan, kebersihan dan ketertiban yang terpelihara dengan baik, adalah tugas kita semua. (***)

Loading...