Gus Irawan Yakin Ada Skenario Pertamina Sengaja Hilangkan Premium

Ilustrasi
LINE it!

NewTapanuli.com, MEDAN – Ketua Komisi VII DPR-RI yang membidangi energi dan lingkungan hidup Gus Irawan Pasaribu meyakini ada satu skenario besar untuk menghilangkan premium dan menggantikannya dengan pertalite. “Begitupula dengan solar ke dexlite,” jelasnya.

Penegasan itu disampaikannya, Senin (11/12), setelah menyerap aspirasi masyarakat berbagai daerah mulai dari Medan hingga ke wilayah Tabagsel sepanjang pekan lalu. Daerah-daerah yang dilaluinya termasuk Labuhan Batu, Tobasa, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, termasuk Pematang Siantar dan wilayah lain.

Dia melakukan perjalanan darat untuk mengecek langsung keberadaan premium di SPBU yang didatangi dan berdialog dengan masyarakat. Bahkan di Padangsidimpuan, puluhan sopir angkutan mendatanginya untuk menyampaikan aspirasi mereka atas kelangkaan premium.

Menurut temuannya dan dialog dengan masyarakat sebenarnya mereka masih sangat membutuhkan premium. “Saya sudah tanyakan langsung. Kemudian temuan lapangan itu saya perkuat lagi dengan meminta respon melalui media sosial. Intinya bisa kita simpulkan bahwa masyarakat masih butuh premium. Tapi memang disengaja Pertamina untuk tidak dijual,” tuturnya.

Dengan kondisi itulah dia menduga akan ada skenario besar untuk menghilangkan premium. Dia menganalisis itu melalui beberapa jawaban Pertamina sampai ke BPH Migas.

Gus Irawan mengatakan, melihat perkembangan yang terjadi pada akhirnya nanti premium memang akan dihapuskan.

Bahkan, skenario itu akan berlanjut dengan menarik Peraturan Presiden No. 191 Tahun 2014 Tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak. Selain itu ada juga Peraturan Menteri ESDM No. 39 Tahun 2016 Tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu dan Jenis Bahan Bakar Minyak Khusus Penugasan Secara Nasional.

Gus menyatakan, skenario tersebut akan dijalankan karena ketika persoalan tersebut diadukan ke BPH Migas di Jakarta pun responnya biasa saja. “Artinya dia seperti merasa kelangkaan tersebut bukan masalah. Saya sudah sampaikan langsung,” jelasnya.

Kemudian jawaban Pertamina MOR 1 Sumbagut juga menjadi hal penting. “Kan tidak mungkin si humasnya berani bicara kalau bukan disuruh perusahaannya. Saya kira itulah potret sikap Pertamina. Bahwa mereka memang tidak lagi menjual premium dengan alasan masyarakat lebih memilih Pertalite,” kata Gus.

Dengan jawaban tersebut Gus Irawan mengaku yakin bahwa nanti ketika ada rapat pun dengan Pertamina, BPH Migas dan Kementerian ESDM sudah bisa ditebak nantinya semua akan mengikuti sikap Pertamina. “Artinya dasar yang dijadikan alasan untuk menghilangkan premium adalah masyarakat sudah tidak berminat lagi. Padahal saya sudah keliling. Bahkan ada yang mengadukan ke saya dari Kalimantan kalau mereka pun masih butuh,” papar Gus.

Namun dengan alasan bahwa masyarakat sudah tidak berminat ke premium, Pertamina mengambil sikap tidak memasarkannya.

“Saya sudah punya dugaan kuat akan skenario penghapusan tersebut. Intinya nanti ketika digelar pertemuan, tujuannya untuk mencabut Perpres dan Peraturan Menteri yang mengatur bahan bakar minyak jenis premium,” bilang Gus.

Jadi prinsipnya, lanjut Gus, premium memang bukan prioritas lagi untuk dijual ke masyarakat. “Padahal kita tahu sendiri berapa banyak masyarakat pengguna bahan bakar tersebut. Sopir angkutan, usaha kecil yang menggunakan sepedamotor, semua mereka masih butuh premium. Dari pengaduan yang sampai ke saya pun intinya butuh premium. Herannya tidak disediakan,” kata dia.

Gus Irawan yakin jika skenario pencabutan peraturan presiden itu sukses dijalankan sama artinya pemerintah sekarang makin menunjukkan ketidakberpihakannya kepada masyarakat kecil. “Kita makin paham kebijakan pemerintah ini mau dibawa kemana kalau kemudian premium benar-benar dihapuskan,” ujarnya.

Gus bilang, kebutuhan masyarakat banyak dihapuskan karena selisih margin yang lebih menguntungkan saat menjual pertalite sama artinya menekan masyarakat. “Saya yakin kalau ada peralihan dan premium tak dijual lagi beban hidup kian berat,” ujarnya.

Gus mengaku menemuka indikasi yang menunjukkan premium bakal dihapuskan. “Tinggal menunggu hitam di atas putih saja untuk membatalkan Perpres tadi. Coba cek ke SPBU-SPBU sudah tidak ada lagi tangki pemilik SPBU untuk premium semua sudah pertalite. Lihat neon box (penanda) yang dipampang SPBU di pintu-pintu masuknya sudah tak ada lagi premium. Jadi makin yakin kita kalau ada skenario menghilangkan komoditas tersebut,” pungkasnya. (ila/ram)

Loading...